Jumat, 25 Januari 2019 0 Comments

3K , Which Will You Choose? #CoretanOo #14

"Kekayaan, Kesuksesan, dan Kasih Sayang"
Sumber: desain-web.co.id

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas:
“Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
Wanita itu menjawab,
“Belum, dia sedang keluar”.
“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.

“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampir bersamaan.

“Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”

Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberitahu pesan pria di luar.
Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu.
Ia bertanya, “Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja?

Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.”

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.”

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”

Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.

“Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”

Semoga kasih sayang selalu memenuhi kehidupan kita.
Semoga kita menjadi lebih baik & bermanfaat 

Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

Edited by: @SatyaOo
Sabtu, 05 Januari 2019 0 Comments

Belajar pada yang Kecil #CoretanOo #13

"Belajar pada yang Kecil"
 
Sumber: Mariaizurieta.com

***

Tidak ada sesuatu sekecil apapun yang Allah Subhanahu wata'ala ciptakan secara sia-sia. Bahkan atom yang sangat kecil sekalipun, yang sangat sulit terlihat oleh mata pasti ada manfaatnya. Dan, kepada berbagai ciptaan Allah yang lebih kecil dari kita, banyak yang bisa kita tafakuri dan kita ambil hikmahnya.

Jangan pernah memandang remeh sesuatu yang lebih kecil dari kita. Jangan pula memandang rendah kepada orang yang nampaknya lebih rendah dari kita. Karena mereka lebih kecil atau lebih rendah itu hanyalah secara fisik dalam pandangan kita saja. Sedangkan hakikatnya tidak demikian. Karena kemuliaan sejati tidak diukur dari besar kecilnya atau tinggi rendahnya.

Jikalau ada anak kecil yang dengan kepolosannya memberi nasehat kepada kita, maka berlapangdadalah untuk menerimanya dengan penuh kasih sayang. Karena tidak ada kejadian sekecil apapun kecuali Allah yang mengizinkannya terjadi.

Jika ada bawahan yang terlihat oleh kita sedang beramal saleh, maka teladanilah. Tidak perlu gengsi hanya karena kita lebih tinggi jabatannya dari dia. Karena setiap nasehat kebaikan hakikatnya dari Allah, sedangkan manusia hanyalah menjadi jalannya saja.

***

Menerima pelajaran dari sesuatu yang lebih kecil atau seseorang yang lebih rendah adalah wujud ketawadhuan. Sedangkan tawadhu adalah jalan pada ketinggian derajat seseorang. Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam. bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah Subhanahu wata'ala menggolongkan kita sebagai orang-orang yang rendah hati, yang mudah menerima kebaikan dan kebenaran meskipun datang dari makhluk yang lebih rendah atau lebih kecil dari kita.
Aamiin

***

Sumber: Abdullah Gymnastiar
Edited By: @SatyaOo
Jumat, 28 Desember 2018 0 Comments

Dewasa Itu Pilihan #CoretanOo #12

"Dewasa Itu Pilihan"
Sumber: Minukkusmia.blogspot.com


***

Hari itu ibuku bangun pagi-pagi sekali, lalu bekerja keras di rumah, dari menyiapkan makanan untuk kami sampai membereskan rumah. Kami tak punya pembantu.

Sudah dari jam tujuh malam tadi ibu selesai menyiapkan makan malam untuk Ayah dan kami. Sederhana sekali, hanya berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri. Namun sayang, karena sibuk mengurusi adik kecilku yang terus merengek, tempe dan telur goreng yang dibuatnya agak gosong.

Aku melihat Ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, sementara minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan agak khawatir apa reaksi Ayah yang pulang kerja. Pasti beliau sudah sangat lelah. Entah apa reaksinya, jika melihat makan malamnya hanya tempe dan telur. Gosong, pula.

***

Luar biasa! Ayahku dengan tenang menikmati dan menghabiskan semua yang disiapkan oleh Ibu dengan bibir tersenyum, dan bahkan beliau berkata, “Bu terima kasih, ya!“

Lalu ayahku  menanyakan kegiatan aku dan adikku di sekolah. 

Selesai makan, kudengar Ibu meminta maaf karena telur dan tempe yang di sajikan itu gosong.

Satu hal yang tidak pernah tak kulupakan adalah apa yang Ayah katakan pada Ibu, “Sayang, gak apa-apa, malahan aku suka sekali dengan telor dan tempe yang gosong, kok.“

***

Sebelum tidur, aku pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada Ayah. Aku bertanya, apakah Ayah benar-benar menyukai telur dan tempe yang gosong tadi?

Heran dengan pertanyaan saya, tiba-tiba Ayah memelukku erat dengan kedua lengannya sambil berkata, “Nak, Ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah sangat lelah. Jadi, sepotong telur dan tempe yang gosong itu tidak akan menyakiti siapa pun, kan?"

***

Ini pelajaran yang kulakukan di tahun-tahun berikutnya, “Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi."

***

Sumber: http://goo.gl/2bwlDK, 2013
Edited By: @SatyaOo
Sabtu, 22 Desember 2018 0 Comments

Understanding Your Parents #CoretanOo #11

Buat yang masih punya Orang tua Lansia.. atau sudah menjadi Orang tua Lansia.. Bacalah tulisan ini bagus untuk di Hayati...

"UNDERSTANDING YOUR PARENTS"
Sumber: Everplans.com


Jika Anda merasa ter-ganggu dengan Ayah/ Ibu/ Kakek/ Nenek Anda yang sudah berusia lanjut.. karena mereka cerewet, suka ngomel, banyak bicara dll.

Silahkan Baca artikel ini hingga selesai..

Tahukah Anda bahwa.. 
"Sebenarnya dengan mereka Cerewet.. Suka cerita.. Ngomel.. dll, ini sebenarnya bentuk "Verbal Catharsis"

Yaitu cara Orangtua mengeluarkan Unek²nya sehingga setelah melakukan nya Hatinya akan menjadi Plong, Lega & Nyaman .. seperti baru di Infus Oxygen ber-Tekanan Tinggi....!!.

Selama Orang tua masih mau Bicara, mengeluar kan Pikiran & terutama Perasaan nya dlm bentuk Verbal.. ini tentu sangat Bagus.. dari pada Mereka hanya diam saja.

Semakin Mereka diam.. tidak ada komunikasi.. maka akan semakin tidak baik bagi kesehatan diri Mereka..

Sebagai Anak/Cucu kita perlu Bijak memahami Kondisi & Situasi Orang² tua kita.

Seorang Ahli Hipno therapis pernah berkata, 
"Walau saya bisa Hipno therapi.. saya tidak akan men Sugesti Ibu saya agar Tenang & Tidak Cerewet lagi."
Memang Ibu saya ini cerewet minta ampun.
Namun.. justru inilah yang membuat Beliau bisa Tetap sehat & Panjang umur. 
"Saat ini Beliau sudah ber Usia 92 tahun.."

Ingat.. saat kita kecil.. kita ini juga cerewetnya minta ampun Looh..
Bicara hal² yang tidak penting.. suka meng-ulang² apa yang sudah dikatakan atau ditanya kan.. namun karena saat itu kita masih Kecil.. masih baru Belajar Bicara Cerewetnya  dianggap Lucu & Menyenangkan.

Tetapi Saat seseorang menjadi Tua.. suka atau tidak suka Dia akan kembali seperti anak kecil... 
Namun karena sekarang Tubuh nya sudah Tua Renta & Keriput, Cerewet nya tidak lagi Lucu & meng Gemaskan.. malah ter-kesan menjengkelkan.

Oleh karena itu.. sayangi lah Orangtua apa adanya dengan segala keLuguan & Kekurangan mereka.. selama mereka masih ada bersama Kita..

Suatu saat nanti.. saat kita sudah tak bisa melihat mereka lagi.. dan suara mereka sudah tidak lagi terdengar..

Kita pasti akan KANGEN & merasa KEHILANGAN

Ingat.. kita nanti juga pasti akan menjadi Tua Renta.. Keriput & Cerewet seperti Orangtua kita..

Semoga kita bisa sabar memahami keadaan mereka seperti apa adanya.

“Love your parents and treat them with loving care for you will only know their value when you see their empty chair"

Berbahagialah yg masih mempunyai orang tua...

Edited By: @SatyaOo
Jumat, 30 November 2018 0 Comments

Mungkin (Tidak) Berat Bagimu #CoretanOo #10

"Mungkin (Tidak) Berat Bagimu"
Sumber: Computerworld.com

***

“Ah, apaan sih. Gitu doang, cemen banget padahal, kan tinggal milih aja, gausah ribet”
“Masa yang gitu doang gak bisa, kan tinggal gini aja. Apa susahnya?”

***

Seringkali, ada orang yang datang menceritakan berbagai masalahnya. Namun, tidak jarang juga, kita sebagai pendengar, merasa bahwa masalahnya itu terlalu remeh untuk diceritakan.

Seperti ketika beberapa waktu lalu, seorang wanita bertanya pada saya, ia bertanya, “Setiap hari saya bertemu mantan, haruskah saya keluar dari tempat kerja saya?”

Iseng, saya coba tanya pendapat teman-teman saya tentang pertanyaan ini. Banyak yang awalnya tersenyum ketika mendengar pertanyaan ini. Beberapa bahkan berkomentar “Lah, masa gitu doang keluar? Santai aja kali”. Bagi mereka, persoalan itu, remeh.

Namun coba kita sedikit bernostalgia sejenak dengan hidup kita.

Pernahkah kita, ketika masih kecil, bertanya hal-hal yang begitu pada orang yang lebih dewasa?

Semisal “Ayah, 11 tambah 30 itu berapa sih?”
Atau “Kakak, kalau Budi punya 4 permen, diambil 2, maka sisa berapa sih, Kak?”
Atau “Paman, lirik lagu Indonesia Raya itu, bagaimana, sih?”

Bukankah pertanyaan itu sungguh mudah bagi orang-orang dewasa? Bukankah otak kita tak perlu berpikir keras untuk mencari jawabannya. Iya, tentu mudah. Karena kita sudah pernah melewatinya.

Namun, ingatkah bagaimana perasaan kita ketika kecil, bukankah kita bertanya dengan penuh kebingungan? Bukankah kita datang dengan penuh rasa ketakutan? Takut jika tak menjawab, ada konsekuensi yang didapat. Bukankah kita bertanya, karena kita butuh jawaban?

Pertanyaan itu, sungguhlah mudah bagi para orang dewasa. Namun, bagaimana rasanya jika kita sebagai orang dewasa menertawakan pertanyaan tersebut  hanya karena kita anggap remeh? Bukankah sang anak justru akan berkecil hati? Bukankah sang anak akan merasa dirinya ini bodoh? Hati-hati, alih-alih dia mendapat jawaban, justru ia mendapatkan rasa sakit hati.

***

Setiap masalah memiliki kadar kesulitan yang berbeda bagi setiap orang. Bagi anak-anak, soal perkalian itu menjadi sungguh sulit, namun tidak bagi para orang dewasa. Bagi yang baru belajar, shalat subuh itu menjadi sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang sudah lama beriman. Bagi yang baru paham, menggunakan hijab itu sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang sudah terbiasa. Bagi keluarga yang sering berselisih, mengucapkan rasa sayang itu sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang keluarganya hangat. Bagi mereka yang baru merasakan cinta, menghadapi mantan di kantor adalah hal yang sulit, namun tidak bagi mereka yang belum pernah merasakan cinta atau sudah terlalu sering bergonta-ganti pasangan.

Masalah yang sama, belum tentu memberi rasa yang sama pada orang yang berbeda.

Maka, jangan pernah sekalipun meremehkan persoalan seseorang. Ketika mereka datang dengan masalah, mereka itu butuh untuk didengar, butuh untuk diberikan solusi. Mereka datang bukan untuk ditertawakan, bukan untuk dihina.

Mungkin, itu tidak berat bagimu. Tapi sungguh, itu sangat menyulitkan baginya

***

Sumber: Choqi Isyraqi
Edited by: @SatyaOo
Kamis, 22 November 2018 0 Comments

Simple But Powerfull #CoretanOo #9

"SIMPLE BUT POWERFULL"
Sumber: Smallstarter.com

Mengapa Google menjadi tempat kerja paling membahagiakan? Ini salah satu rahasianya.

Gajinya besar, makan besar hingga cemilan gratis, disediakan tempat tidur siang, disediakan berbagai sarana olahraga dan games, desain kantornya keren banyak spot selfie. 

Semua itu memang bikin asyik kerja di Google. Tapi ada satu hal yang nggak banyak orang tahu, yang membuat Google menjadi salah satu tempat kerja paling membahagiakan di planet ini.

Chad Meng, salah seorang insinyur, salah seorang perintis di Google (dia karyawan no 107) adalah otak yang merancang sebuah program untuk menciptakan suasana membahagiakan di Google.

Dia menggagas sebuah program untuk karyawan google namanya Search Inside Yourself. Programnya banyak dan unik-unik. Tapi saya mau share satu aja yang menurut saya simple tapi jleb.

Meng mengajarkan sebuah latihan pikiran selama 10 detik saja. Pikirkan dua orang yang ada di ruangan ini, lalu katakan dalam hati "Saya mendoakan dengan tulus agar si A bahagia, Saya mendoakan dengan tulus agar si B bahagia".

Latihan simpel ini ternyata telah mengubah banyak orang. Setiap orang yang sudah mempraktikkan ini akan tersenyum dan merasa lebih bahagia dibanding 10 detik yang lalu.

Meng pernah mengajarkan praktik ini di sebuah seminar pada selasa malam. Dia menyarankan kepada audiens untuk mempraktikkannya besok saat kerja, 10 detik setiap jam. Pilih secara acak dua orang yang melintas di kantornya. Karena ini cuma dalam pikiran, tidak ada hal yang menyulitkan atau memalukan.

Pada hari Rabu Meng mendapat email dari salah seorang yang mempraktikkan latihan ini: "I hate my work, I hate coming to work every single day. But inattended your talk on Monday, did the homework on Tuesday, and tuesday was my happiest day in 7 years."

Mengapa praktik ini begitu efektif untuk menciptakan suasana bahagia dalam hati? 

Ketika mempraktikkan latihan ini saya baru sadar bahwa sumber stres adalah karena kita sibuk memikirkan diri kita. Coba cek doa-doa kita. 99% untuk kebaikan, kebahagiaan, kekayaan diri kita sendiri.

Kayaknya nggak pernah deh kita menyelipkan doa setelah sholat untuk tetangga yang lagi susah, tukang bakso yang malam-malam lewat, atau petugas PLN yang ngecek meteran.

Padahal salah satu sumber kebahagiaan itu ternyata adalah melakukan kebaikan untuk orang lain, altruisme.

Dan sebaliknya, sumber ketidakbahagiaan adalah selfish, egoisMe, selalu Me Me Me (aku aku aku).

Makanya orang yang paling bahagia itu adalah Rasulullah. Hidupnya hanya untuk kebahagiaan orang lain. Doa-doa dan harapannya untuk umatnya. Bahkan kata terakhir adalah Ummatii (umatku)...

Dan Rasul juga pernah kasih resep kebahagiaan yang mungkin Chad Meng terinspirasi dari sini:

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim no. 4912).

Mari kita saling mendoakan dan praktekkan...
Tanpa pamer pada yg didoakan. 🙏🏼😊
Selamat Maulid Nabi

Sumber: @Wijat_miko
Edited by: @SatyaOo
Minggu, 18 November 2018 0 Comments

One Story, Two Perspectives #CoretanOo #8

"ONE STORY, TWO PERSPECTIVES"

Sumber: Brilio.net

Seorang penulis buku terkenal duduk di ruang kerjanya... dia mengambil penanya... dan mulai menulis :

"Tahun lalu... saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang....

Di tahun yang sama, saya berusia 59 tahun dan memasuki usia pensiun..., keluar dari pekerjaan di perusahaan yang begitu saya senangi... saya harus tinggalkan pekerjaan yang sudah saya tekuni selama 32 tahun...

Kemudian... masih di tahun yang sama, anak saya gagal di ujian akhir kedokteran, karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah puncak kesialan di tahun lalu..."

Di bagian akhir dia menulis:

"Sungguh... tahun yang sangat BURUK!"

Istri sang penulis masuk ke ruangan dan mendapati suaminya yang sedang sedih dan termenung... 
Dari belakang, sang istri melihat tulisan sang suami. Perlahan-lahan ia mundur dan keluar dari ruangan...

15 menit kemudian dia masuk lagi dan meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sebagai berikut :

"Tahun lalu... akhirnya suami saya berhasil menyingkirkan kantong empedunya yang selama bertahun-tahun membuat perutnya sakit...

Di tahun itu juga... saya bersyukur, suami bisa PENSIUN dengan kondisi sehat dan bahagia. Saya bersyukur kepada TUHAN, dia sudah diberikan kesempatan berkarya dan berpenghasilan selama 32 tahun untuk menghidupi keluarga kami

Sekarang, suami saya bisa menggunakan waktunya lebih banyak untuk menulis, yang merupakan hobinya sejak dulu...

Dan masih di tahun yang sama pula...TUHAN telah melindungi anak saya dari kecelakaan yang hebat... Mobil kami memang RUSAK berat akibat kecelakaan tersebut..., tetapi anak saya selamat tanpa CACAT sedikit pun..."

Pada kalimat terakhir istrinya menulis :

"Tahun lalu.... adalah tahun yang penuh BERKAH yang luar biasa dari ALLAH. dan kami lalui dengan penuh rasa takjub dan syukur..."

Sang penulis tersenyum haru..., dan mengalir air mata hangat di pipinya... Ia berterimakasih atas SUDUT PANDANG berbeda untuk setiap peristiwa yang telah dilaluinya tahun lalu... Perspektif yang BERBEDA telah membuatnya BAHAGIA...

Sahabat, di dalam hidup ini kita harus MENGERTI bahwa bukan KEBAHAGIAAN yang membuat kita BERSYUKUR Namun rasa SYUKURLAH yang akan membuat kita BAHAGIA....

Mari kita BERLATIH melihat suatu peristiwa dari sudut pandang POSITIF dan jauhkan dari PRASANGKA NEGATIF dalam hati.

#mariberlatih

Edited by: @SatyaOo
 
;