Jumat, 30 November 2018 0 Comments

Mungkin (Tidak) Berat Bagimu #CoretanOo #10

"Mungkin (Tidak) Berat Bagimu"
Sumber: Computerworld.com

***

“Ah, apaan sih. Gitu doang, cemen banget padahal, kan tinggal milih aja, gausah ribet”
“Masa yang gitu doang gak bisa, kan tinggal gini aja. Apa susahnya?”

***

Seringkali, ada orang yang datang menceritakan berbagai masalahnya. Namun, tidak jarang juga, kita sebagai pendengar, merasa bahwa masalahnya itu terlalu remeh untuk diceritakan.

Seperti ketika beberapa waktu lalu, seorang wanita bertanya pada saya, ia bertanya, “Setiap hari saya bertemu mantan, haruskah saya keluar dari tempat kerja saya?”

Iseng, saya coba tanya pendapat teman-teman saya tentang pertanyaan ini. Banyak yang awalnya tersenyum ketika mendengar pertanyaan ini. Beberapa bahkan berkomentar “Lah, masa gitu doang keluar? Santai aja kali”. Bagi mereka, persoalan itu, remeh.

Namun coba kita sedikit bernostalgia sejenak dengan hidup kita.

Pernahkah kita, ketika masih kecil, bertanya hal-hal yang begitu pada orang yang lebih dewasa?

Semisal “Ayah, 11 tambah 30 itu berapa sih?”
Atau “Kakak, kalau Budi punya 4 permen, diambil 2, maka sisa berapa sih, Kak?”
Atau “Paman, lirik lagu Indonesia Raya itu, bagaimana, sih?”

Bukankah pertanyaan itu sungguh mudah bagi orang-orang dewasa? Bukankah otak kita tak perlu berpikir keras untuk mencari jawabannya. Iya, tentu mudah. Karena kita sudah pernah melewatinya.

Namun, ingatkah bagaimana perasaan kita ketika kecil, bukankah kita bertanya dengan penuh kebingungan? Bukankah kita datang dengan penuh rasa ketakutan? Takut jika tak menjawab, ada konsekuensi yang didapat. Bukankah kita bertanya, karena kita butuh jawaban?

Pertanyaan itu, sungguhlah mudah bagi para orang dewasa. Namun, bagaimana rasanya jika kita sebagai orang dewasa menertawakan pertanyaan tersebut  hanya karena kita anggap remeh? Bukankah sang anak justru akan berkecil hati? Bukankah sang anak akan merasa dirinya ini bodoh? Hati-hati, alih-alih dia mendapat jawaban, justru ia mendapatkan rasa sakit hati.

***

Setiap masalah memiliki kadar kesulitan yang berbeda bagi setiap orang. Bagi anak-anak, soal perkalian itu menjadi sungguh sulit, namun tidak bagi para orang dewasa. Bagi yang baru belajar, shalat subuh itu menjadi sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang sudah lama beriman. Bagi yang baru paham, menggunakan hijab itu sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang sudah terbiasa. Bagi keluarga yang sering berselisih, mengucapkan rasa sayang itu sungguh sulit, namun tidak bagi mereka yang keluarganya hangat. Bagi mereka yang baru merasakan cinta, menghadapi mantan di kantor adalah hal yang sulit, namun tidak bagi mereka yang belum pernah merasakan cinta atau sudah terlalu sering bergonta-ganti pasangan.

Masalah yang sama, belum tentu memberi rasa yang sama pada orang yang berbeda.

Maka, jangan pernah sekalipun meremehkan persoalan seseorang. Ketika mereka datang dengan masalah, mereka itu butuh untuk didengar, butuh untuk diberikan solusi. Mereka datang bukan untuk ditertawakan, bukan untuk dihina.

Mungkin, itu tidak berat bagimu. Tapi sungguh, itu sangat menyulitkan baginya

***

Sumber: Choqi Isyraqi
Edited by: @SatyaOo
Kamis, 22 November 2018 0 Comments

Simple But Powerfull #CoretanOo #9

"SIMPLE BUT POWERFULL"
Sumber: Smallstarter.com

Mengapa Google menjadi tempat kerja paling membahagiakan? Ini salah satu rahasianya.

Gajinya besar, makan besar hingga cemilan gratis, disediakan tempat tidur siang, disediakan berbagai sarana olahraga dan games, desain kantornya keren banyak spot selfie. 

Semua itu memang bikin asyik kerja di Google. Tapi ada satu hal yang nggak banyak orang tahu, yang membuat Google menjadi salah satu tempat kerja paling membahagiakan di planet ini.

Chad Meng, salah seorang insinyur, salah seorang perintis di Google (dia karyawan no 107) adalah otak yang merancang sebuah program untuk menciptakan suasana membahagiakan di Google.

Dia menggagas sebuah program untuk karyawan google namanya Search Inside Yourself. Programnya banyak dan unik-unik. Tapi saya mau share satu aja yang menurut saya simple tapi jleb.

Meng mengajarkan sebuah latihan pikiran selama 10 detik saja. Pikirkan dua orang yang ada di ruangan ini, lalu katakan dalam hati "Saya mendoakan dengan tulus agar si A bahagia, Saya mendoakan dengan tulus agar si B bahagia".

Latihan simpel ini ternyata telah mengubah banyak orang. Setiap orang yang sudah mempraktikkan ini akan tersenyum dan merasa lebih bahagia dibanding 10 detik yang lalu.

Meng pernah mengajarkan praktik ini di sebuah seminar pada selasa malam. Dia menyarankan kepada audiens untuk mempraktikkannya besok saat kerja, 10 detik setiap jam. Pilih secara acak dua orang yang melintas di kantornya. Karena ini cuma dalam pikiran, tidak ada hal yang menyulitkan atau memalukan.

Pada hari Rabu Meng mendapat email dari salah seorang yang mempraktikkan latihan ini: "I hate my work, I hate coming to work every single day. But inattended your talk on Monday, did the homework on Tuesday, and tuesday was my happiest day in 7 years."

Mengapa praktik ini begitu efektif untuk menciptakan suasana bahagia dalam hati? 

Ketika mempraktikkan latihan ini saya baru sadar bahwa sumber stres adalah karena kita sibuk memikirkan diri kita. Coba cek doa-doa kita. 99% untuk kebaikan, kebahagiaan, kekayaan diri kita sendiri.

Kayaknya nggak pernah deh kita menyelipkan doa setelah sholat untuk tetangga yang lagi susah, tukang bakso yang malam-malam lewat, atau petugas PLN yang ngecek meteran.

Padahal salah satu sumber kebahagiaan itu ternyata adalah melakukan kebaikan untuk orang lain, altruisme.

Dan sebaliknya, sumber ketidakbahagiaan adalah selfish, egoisMe, selalu Me Me Me (aku aku aku).

Makanya orang yang paling bahagia itu adalah Rasulullah. Hidupnya hanya untuk kebahagiaan orang lain. Doa-doa dan harapannya untuk umatnya. Bahkan kata terakhir adalah Ummatii (umatku)...

Dan Rasul juga pernah kasih resep kebahagiaan yang mungkin Chad Meng terinspirasi dari sini:

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim no. 4912).

Mari kita saling mendoakan dan praktekkan...
Tanpa pamer pada yg didoakan. 🙏🏼😊
Selamat Maulid Nabi

Sumber: @Wijat_miko
Edited by: @SatyaOo
Minggu, 18 November 2018 0 Comments

One Story, Two Perspectives #CoretanOo #8

"ONE STORY, TWO PERSPECTIVES"

Sumber: Brilio.net

Seorang penulis buku terkenal duduk di ruang kerjanya... dia mengambil penanya... dan mulai menulis :

"Tahun lalu... saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang....

Di tahun yang sama, saya berusia 59 tahun dan memasuki usia pensiun..., keluar dari pekerjaan di perusahaan yang begitu saya senangi... saya harus tinggalkan pekerjaan yang sudah saya tekuni selama 32 tahun...

Kemudian... masih di tahun yang sama, anak saya gagal di ujian akhir kedokteran, karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah puncak kesialan di tahun lalu..."

Di bagian akhir dia menulis:

"Sungguh... tahun yang sangat BURUK!"

Istri sang penulis masuk ke ruangan dan mendapati suaminya yang sedang sedih dan termenung... 
Dari belakang, sang istri melihat tulisan sang suami. Perlahan-lahan ia mundur dan keluar dari ruangan...

15 menit kemudian dia masuk lagi dan meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sebagai berikut :

"Tahun lalu... akhirnya suami saya berhasil menyingkirkan kantong empedunya yang selama bertahun-tahun membuat perutnya sakit...

Di tahun itu juga... saya bersyukur, suami bisa PENSIUN dengan kondisi sehat dan bahagia. Saya bersyukur kepada TUHAN, dia sudah diberikan kesempatan berkarya dan berpenghasilan selama 32 tahun untuk menghidupi keluarga kami

Sekarang, suami saya bisa menggunakan waktunya lebih banyak untuk menulis, yang merupakan hobinya sejak dulu...

Dan masih di tahun yang sama pula...TUHAN telah melindungi anak saya dari kecelakaan yang hebat... Mobil kami memang RUSAK berat akibat kecelakaan tersebut..., tetapi anak saya selamat tanpa CACAT sedikit pun..."

Pada kalimat terakhir istrinya menulis :

"Tahun lalu.... adalah tahun yang penuh BERKAH yang luar biasa dari ALLAH. dan kami lalui dengan penuh rasa takjub dan syukur..."

Sang penulis tersenyum haru..., dan mengalir air mata hangat di pipinya... Ia berterimakasih atas SUDUT PANDANG berbeda untuk setiap peristiwa yang telah dilaluinya tahun lalu... Perspektif yang BERBEDA telah membuatnya BAHAGIA...

Sahabat, di dalam hidup ini kita harus MENGERTI bahwa bukan KEBAHAGIAAN yang membuat kita BERSYUKUR Namun rasa SYUKURLAH yang akan membuat kita BAHAGIA....

Mari kita BERLATIH melihat suatu peristiwa dari sudut pandang POSITIF dan jauhkan dari PRASANGKA NEGATIF dalam hati.

#mariberlatih

Edited by: @SatyaOo
Minggu, 11 November 2018 0 Comments

Tentang Sepotong Rindu #CoretanOo #7

"Tentang Sepotong Rindu"

 Sumber: Hipwee.com


Setiap kebaikan pasti akan berbalas dengan kebaikan sekecil apapun.
Karena tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula, bukan? Tenang saja Allah tidak akan lupa dengan kebaikan-kebaikan, sedekah, doa-doa, atau pertolongan kita, walau orang lain tidak menganggap kebaikan kita.

Jangan pernah meremehkan orang lain, karena itu akan membuat kita sulit. Lihatlah seseorang dengan kebaikan bukan dengan kesombongan, keburukan, atau prasangka. Karena mungkin kita tidak lebih baik dari mereka.

Perlakukan seseorang dengan kebaikan seperti kita yang juga menginginkan kebaikan tersebut. Walau mungkin kita tidak diperlakukan dengan baik.

Suatu saat kita akan diperlakukan sama dengan apa yang pernah kita lakukan, maka tanamlah benih-benih kebaikan, agar yang kita tuai adalah kebaikan pula.

Bukankah itu yang kita inginkan?

***

Sumber: Thalhah S. Rabbani
Edited by: @SatyaOo
Jumat, 02 November 2018 0 Comments

Mau Belajar #CoretanOo #6

"Mau Belajar"

Sumber: Study.com

***

Pada akhirnya, yang paling penting dari setiap orang adalah Kemauan Belajarnya.

Seperti wanita yang mau belajar memasak, mau belajar mengasuh, mau belajar bersih-bersih.

Seperti pria yang mau belajar tegas, mau belajar menjahit, mau belajar pertukangan.

Seperti karyawan yang mau belajar ilmu baru, mau belajar memecahkan masalah, mau belajar agar pintar.

Seperti OB yang mau belajar menyapu, mau belajar mengurus dapur, mau belajar merapihkan meja.

Yang paling penting, adalah Kemauan Belajar. Karena dengan mau belajar, kita memahami diri kita ini rendah, dan perlu meningkatkan diri.

Dan yang lebih penting dari mau belajar sesuatu, adalah Mau Belajar untuk menjadi Lebih Baik.

Seperti mau belajar memberi, mau belajar sabar, mau belajar santun, mau belajar bersyukur, mau belajar bangun lebih pagi, mau belajar beribadah, serta berbagai kemauan untuk belajar lainnya.

Jangan pernah sekalipun bilang "Aku orangnya memang begini, tak bisa diubah”, jangan, sekalipun jangan. Karena sesungguhnya, setiap orang bisa berubah, selama ia mau belajar untuk berubah.

Karena bagaimanapun juga, Orang-orang Terbaik, adalah yang mau belajar, untuk Menjadi Lebih Baik.

-Jadikan Setiap Langkah Hidupmu adalah Kebutuhanmu (Aruna,2018)-

***

Choqi Isyraqi, November 2017
Edited by @SatyaOo
Selasa, 30 Oktober 2018 0 Comments

Fitnah & Kemoceng #CoretanOo #5

"Fitnah dan Kemoceng"

Sumber: kliknclean.com

“Kyai, maafkanlah saya yang telah memfitnah pakkyai dan ajarkan saya sesuatu yang bisa mengh apuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin  sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan kyai.

Kyai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kyai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”

Kyai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kyai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kyai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—

“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” 

Aku benar-benar heran Kyai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.

“Maaf, Kyai?” Aku berusaha memperjelas maksud kyai Husain.

Kyai Husain tertawa, seperti kyai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. 

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, 

“Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.

Tampaknya Kyai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. 

“Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

Kyai Husain tersenyum.

“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya,

“Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”

Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud kyai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata kyai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.

***

Keesokan harinya, aku menemui Kyai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.

“Ini, Kyai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. 

Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”

Kyai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.

“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.

Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”
Aku terkejut mendengarkan permintaan kyai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.

“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.

***

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!

Aku terus berjalan.

Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.

***

Hari berikutnya aku menemui Kyai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kyai Husain. “Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kyai Husain.

Kyai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.

Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kyai?” Aku benar-benar tak mengerti.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab kyai Husain.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.

“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kauhitung!”

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”
“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.
 “Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim… 
Astagfirulloh hal-adzhim…” 
Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.

“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Kyai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim...”

Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!

“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kyai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata.

Demikianlah, anakku, fitnah itu kejam. Lebih kejam daripada pembunuhan....

Edited by: @SatyaOo
Kamis, 25 Oktober 2018 0 Comments

Sekali Bertemu, Seumur Hidup Terinspirasi #CoretanOo #4

"Sekali Bertemu, Seumur Hidup Terinspirasi"

Sumber: Mindoverlatte.com

***
Ada masanya, saya lupa ngeliat indikator tanki bensin. Tau-tau motor mogok, jauh dari pom bensin. Tiba-tiba, ada orang baik datang, bantu dorong pakai kaki, sampai ketemu penjual bensin eceran. Saat itu cuma bilang terima kasih. 

Mau balas kebaikan yang sama gimana? Kalau memang ketemunya cuma saat itu aja. Terpikir, kalau nggak dibantu beliau? Kebayang dorong motor belasan KM. Sejak saat itu, tiap kebetulan ketemu orang dengan motor yang mogok, berusaha coba bantu sebisa mungkin. Saya nggak bisa balas kebaikan orang yang pernah bantu saya, tapi saya mencoba meneruskan kebaikan beliau.

***

Ada masanya, saya kehilangan ponsel di jalan. Ternyata ada yang mau bantu saya meminjamkan ponsel dan memberikan pulsanya, agar saya bisa mengabarkan keluarga, baru saja saya dapat musibah. Saat itu cuma bilang terimakasih. 

Mau balas kebaikan yang sama gimana? Kalau memang ketemunya cuma saat itu aja. Kalaupun ketemu, belum tentu dalam keadaan kehilangan ponsel. Sejak saat itu, saya berusaha mengikuti jejak kebaikan beliau. Saya nggak bisa balas kebaikan orang yang pernah bantu saya, tapi saya mencoba meneruskan kebaikan beliau.

***

Ada masanya, saya merepotkan senior-senior, orang-orang yang baru sesaat bertemu, untuk bantu menyelesaikan skripsi saya. 

Saya, nggak mungkin bisa balas kebaikan yang sama kepada mereka, karena mereka jelas-jelas sudah lebih dahulu menyelesaikannya dibanding saya. Tapi kebaikan mereka sungguh membekas. Saya nggak bisa balas kebaikan orang yang pernah bantu saya, tapi saya mencoba meneruskan kebaikan beliau.

***

Seringkali, kebaikan-kebaikan kecil yang pernah menyelamatkan kita di masa-masa sulit, begitu membekas. Saya nggak begitu paham tentang amal jariyah, tapi soal meneruskan kebaikan, saya rasa setiap orang bisa melakukannya. 

Semoga yang kita lakukan terhitung sebagai amal saleh. Minimal sebagai bentuk terima kasih kepada mereka yang pernah membantu kita.

***

9 Januari 2018
@Guswibowo @Mutiiadia @SatyaOo
 
;