“Sampah” adalah 6 huruf yang dari dulu hingga kini masih menjadi bahan pembicaraan masyarakat yang tiada habisnya . Dalam konteks kecil saja semisal Negara kita yaitu Indonesia masih menjadikan sampah sebagai masalah yang serius dari tahun ke tahun. Padahal seharusnya sampah sendiri sudah bisa di selesaikan permasalahannya sejak dahulu. Namun karena kebiasaan masyarakat yang sulit berubah dan tingkat kedisiplinan yang rendah , masalah kebersihan pun selalu di sepelekan. Padahal slogan-slogan , anjuran-anjuran , maupun demo-demo tentang kebersihan sudah sering kita lihat maupun kita dengar . Namun , tingkat kesadaran dan inisiatif masyarakat yang masih rendah yang menyebabkan terjadinya bencana alam berupa banjir dan penyumbatan air di kota-kota besar yang disebabkan oleh mereka sendiri.
Semakin
memadatnya jumlah penduduk , dan semakin maraknya gedung-gedung pencakar langit
membuat Indonesia menjadi Negara yang rawan akan polusi , kejahatan , dan yang
paling parah ialah bertambahnya tingkat pengangguran di karenakan meningkatnya
tingkat transmigrasi penduduk desa menuju kota. Bukannya mencari pekerjaan ,
tetapi tidak mendapat pekerjaan karena lahan pekerjaan yang sempit dan
persaingan yang ketat untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang mapan seperti di
Jakarta , Bandung , dan kota-kota besar lainnya.
Akibat
dari maraknya transmigrasi penduduk tersebut , penduduk desa pun mulai
merindukan orang-orang terdekat mereka yang hijrah ke kota , baik untuk
berkumpul bersama keluarga di desa maupun melaksanakan kebiasaan di desa
seperti gotong royong , bakti sosial , menanam tumbuhan dan tanaman di sawah .
Hal-hal tersebut memang terdengar sederhana namun berdampak sangat signifikan
bagi kelangsungan desa-desa di Indonesia .
Akan
tetapi , dari periode menuju periode selanjutnya , kebiasaan-kebiasaan untuk
bergotong royong saja mulai langka untuk kita lihat pengaplikasiannya dalam
kehidupan sehari-hari di de/sa maupun di kota . Akibatnya lingkungan-lingkungan
yang dahulunya asri nan indah untuk di lihat , sekarang sudah mulai maraknya
polusi dan pergantian kebudayaan dari klasik menuju kebudayaan modern . Seiring
bertambahnya zaman ini dan begitu pesatnya perkembangan elektronik semacam
“Smart Phone” tidak seluruhnya berdampak positif bagi kelangsungan hidup
masyarakat . Dampat negatifnya yang saya sudah rasakan adalah adanya perubahan
tingkah laku masyarakat dalam hal sosialisasi . Sosialisasi merupakan kebutuhan
manusia itu sendiri karena manusia merupakan mahluk sosial . Namun seiring berjalannya waktu , sosialisai
antar manusia itu semakin berkurang . Contoh sederhananya adalah ketika kita
bertamu ke rumah saudara atau kerabat dekat saja , harus memberi taunya lewat
handphone . Padahal dari nenek moyang kita di desa , kita sudah diajarkan adat
bertamu yang sopan . Kemudian dari hal sosialisai tersebut , menurut saya itu
sangat berdampak bagi kebersihan di desa apalagi yang lebih spesifik mengenai
sampah karena akan kurangnya komunikasi secara langsung antar warga dengan
rukun tetangga maupun rukun warga terutama untuk kebersihan lingkungan sekitar
.
Pada
zaman dahulu , bisa kita imajinasikan saja bahwa kolam-kolam ikan di desa-desa
ataupun sungai-sungai yang mengalir begitu derasnya , sekarang hanya terlihat
sisa-sisa sampah maupun kantung-kantung palstik yang berserakan . Tentunya hal
tersebut membuat berubahnya air yang asalnya jernih dan dapat di minum ,
menjadi coklat dan menngkeruh hingga jentik-jentik nyamuk hinggap dan bisa
menjadi wabah penyakit yaitu Demam Berdarah atau Malaria . Jika sudah terkena
wabah tersebut , maka akan berdampak bagi penurunan tingkat kesehatan warga
desa tersebut . Apalagi , sudah kita ketahui bahwa perekonomian di Negara
Indonesia ini masih belum stabil dan meningkatnya inflasi yang membuat
harga-harga menaik dengan pesat serta pastinya merugikan para penduduk dengan
kebutuhan yang tiada habisnya terutama di desa . Tidak terbayangkan bagaiman
jika hal yang sepele saja seperti imbauan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” yang
sudah tidak asing terdengar di telinga kita , tidak aneh terlihat oleh
pandangan mata kita sepanjang jalan , dan sekarang imbauan tersebut sudah di
hiraukan oleh masyarakat di Indonesia . Apalagi dengan banyaknya berita-berita
di televisi mengenai banyaknya sampah di des-desa dan menyebabkan desa tersebut
banjir ataupun susah dalam mendapatkan air yang bersih , sungguh menjadi berita
yang menyedihkan bagi seluruh rakyat Indonesia .
Padahal
Indonesia sendiri mempunyai desa yang banyak dan masih menyimpan sawah-sawah
yang begitu anggun untuk menjadi budaya bangsa serta dapat di lestarikan dengan
baik oleh generasi penerus bangsa .
Namun
dalam setiap masalah yang kita hadapi pasti akan terdapat solusinya , untuk itu
sebaiknya :
# Ditanamkan
sistem kebersihan lingkungan untuk setiap wilayah di Indonesia dalam cangkupan
luas misal provinsi hingga cangkupan kecil yaitu rukun tetangga dalam sistem
kewarganegaraan .
# Pemerintah
membuat sistem penanaman tanaman hijau yang harus dilakukan setiap minggu oleh
warga yang kita kenal dengan istilah “Go Green” berupa penanaman tanaman ,
pembudidayaan tanaman , hingga gerakan menanam tanaman bersama di taman-taman
kota atau lingkungan di desa.
# Adanya
penyuluhan secara berkala ke desa-desa mengenai kebersihan , kesehatan ,dan
keindahan . Dengan adanya penyuluhan tersebut diharapkan warga dapat lebih
antusias dalam memerhatikan kebersihan lingkungannya.
# Membuat
himbauan-himbauan yang berlandaskan intimidasi namun bertujuan ke arah positif
seperti “Jika anda membuang sampah sembarangan , maka denda sebesar Rp 50.000”
atau slogan yang bisa mengajak warga desa menuju desa yang paling bersih.
#Setelah
Pemerintah menggunakan sistem “Go Green” tersebut , pemerintah kemudian
mengevaluasi ke setiap daerah desa di Indonesia setiap bulannya dan sebaiknya
diadakan hadiah bagi yang menjadi desa atau wilayah yang paling bersih.
# Dinas-dinas
kebersihan selalu memberi motivasi dan mengingatkan masyarakat agar berperilaku
bersih , sehat dan aman dari penyakit.
By : @SatyaOo








- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact